Minggu, 20 Desember 2015

polutan udara


POLUTAN UDARA

FERA FITRIA
SINTA DEWI SIREGAR 
Apa itu polutan?


      Polutan adalah Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan baik (Pencemaran Udara, Tanah, Air, dsb).
      Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makhluk hidup. Contohnya, karbon dioksida dengan kadar 0,033% di udara berfaedah bagi tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat rnemberikan efek merusak.
      Suatu zat dapat di sebut polutan apabila?
      1. Jumlahnya melebihi jumlah normal
2. Berada pada waktu yang tidak tepat
3. Berada pada tempat yang tidak tepat
 Sifat dari polutan adalah
      Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat lingkungan tidak merusak lagi
      Merusak dalam jangka waktu lama. Contohnya Pb tidak merusak bila konsentrasinya rendah. Akan tetapi dalam jangka waktu yang lama, Pb dapat terakumulasi dalam tubuh sampai tingkat yang merusak.
 
 Polutan udara
      Polutan Udara adalah pencemaran akibat masuknya bahan atau zat asing, energi, dan komponen lainnya ke udara. Zat-zat pencemar (polutan) yang ada di udara umumnya berupa debu, asap, dan gas buangan hasil pembakaran bahan bakarfosil, seperti minyak dan batu bara oleh kendaraan/alat transportasi dan mesin-mesin pabrik.Gas buangan yang mengandung zat yang berbahaya, misalnya asap, karbon monoksida (CO), karbon dioksida (C02), sulfur oksida (S02), nitrogen oksigen (NO, N02, NOx), CFC, dan sebagainya.
      AsapAsap adalah hasil pembakaran bahan organik yang tidaksempurna. Pembakaran hutan, plastik, dan sampah organik akan menghasilkan asap yang berdampak langsung kepada fungsi mata, saluran pernapasan, dan aktivitas manusia.
      Karbon monoksida (CO)  adalah suatu komponen yang bersifat tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mempunyai rasa, yang terdapat dalam bentuk gas pada suhu di atas 192°C, mempunyai berat sebesar 96,9% dari berat air dan tidak larut dalam air.
      Karbon dioksida (C02)Karbon dioksida (C02) dihasilkan dari pembakaran bahan organik, seperti minyak bumi, batu bara, kayu, dan Iain-Iain oleh mesin pabrik dan kendaraan. C02 terbesar dihasilkan dari pembakaran bahan bakarfosil, seperti minyak bumi dan batu bara.
      CFC (Chloro fluoro carbon)CFC biasanya digunakan sebagai bahan pendingin pada AC dan kulkas, CFC dipergunakan sebagai aerosol pada penyemprotan rambut, pengharum, dan pembasmi serangga.
      Sulfur oksida (SO) terutama disebabkan oleh dua komoponen gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur oksida (S02) dan sulfur trioksida (S03). Keduanya disebut sebagai SOx. Sulfur oksida mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak terbakar di udara, sedangkan sulfur trioksida merupakan komponen yang tidak reaktif.
      Nitrogen oksida (NO JNitrogen oksida (NOx) adalah kelompok gas yang terdapat di atmosfer yang terdiri atas gas nitrit oksida (NO) dan nitrogen oksida (N02).

pencemaran air dan sifat air tercemar


FERA FITRIA
EVA PEBRIANTY P

PENCEMARAN AIR DAN SIFAT AIR TERCEMAR


Ciri-ciri air yang mengalami pencemaran sangat bervariasi tergantung dari jenis air dan polutannya atau komponen yang mengakibatkan polusi. Sebagai contoh air minum yang terpcemar mungkin rasanya akan berubah meskipun perubahan baunya mungkin sukar dideteksi, bau yang menyengat mungkin akan timbul pada pantai laut, sungai dan danau yang terpolusi, kehidupan hewan air akan berkurang pada air sungai yang terpolusi berat, atau minyak yang terlihat terapung pada permukaan air laut menunjukkan adanya polusi. Tanda-tanda polusi air yang berbeda ini disebabkan oleh sumber dan jenis polutan yang berbeda-beda.
A. Pengelompokan Bahan  Pencemar Air (Polutan)
Untuk memudahkan pembahasan mengenai berbagai jenis polutan, polutan air dapat dikelompokkan atas 9 grup berdasarkan perbedaan sifat-sifatnya sebagai berikut:
  1. Padatan
  2. Bahan buangan yang membutuhkan oksigen (oxygen-demanding wastes)
  3. Mikroorganisme
  4. Komponen organik sintetik
  5. Nutrien tanaman
  6. Minyak
  7. Senyawa anorganik dan mineral
  8. Bahan radioaktif
  9. Panas


B.   Sifat-Sifat Air Tercemar

Untuk mengetahui apakah suatu air terpolusi atau tidak, diperlukan pengujian untuk menentukan sifat-sifat air sehingga dapat diketahui apakah terjadi penyimpangan dari batasan-batasan polusi air. Sifat-sifat air yang umum diuji dan dapat digunakan untuk menentukan tingkat polusi air misalnya:
  1. Nilai pH, keasaman dan alkalinitas
  2. Suhu
  3. Warna, bau dan rasa
  4. Jumlah padatan
  5. Nilai BOD/COD
  6. Pencemaran mikroorganisme patogen
  7. Kandungan minyak
  8. Kandungan logam berat
  9. Kandungan bahan radioaktif
B. Bahan Buangan Yang Memerlukan Oksigen
1.    Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Kehidupan makhuk hidup di dalam air tersebut tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Ikan merupakan makhluk air yang memerlukan oksigen tertinggi, kemudian invertebrata, dan yang terkecil kebutuhan oksigennya adalah bakteri. Biota air hangat memerlukan oksigen terlarut minimal 5 ppm, sedangkan biota air dingin memerlukan oksigen terlarut mendekati jenuh. Konsentrasi oksigen terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 ppm.

2.  Biochemical Oxygen Demand (BOD)
Biochemical Oxygen Demand (BOD) menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecahkan atau mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air. Jadi nilai BOD tidak menunjukan jumlah bahan organik yang sebenarnya, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan tersebut. Jika konsumsi oksigen tinggi yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut, maka berarti kandungan bahan-bahan buangan yang membutuhkan oksigen tinggi.
Organisme hidup yang bersifat aerobik membutuhkan oksigen untuk beberapa reaksi biokimia, yaitu untuk mengoksidasi bahan organik, sintesis sel, dan oksidasi sel.

3.  Chemical Oxygen Demand (COD)
Untuk mengetahui jumlah organik di dalam air dapat dilakukan suatu uji yang lebih cepat dari pada uji BOD, yaitu berdasarkan reaksi kimia dari suatu bahan oksidan. Uji tersebut disebut uji COD (chemical oxygen demand), yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan, misalnya kalium dikhromat , untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air.

C.  Mikroorganisme
Mikroorganisme yang terdapat di dalam air berasal berbagai sumber seperti udara, tanah, sampah, lumpur, tanaman hidup atau mati, hewan hidup atau mati (bangkai), kotoran manusia atau hewan, bahan organik lainnya, dan sebagainya. Mikroorganisme tersebut mungkin tahan lama hidup di dalam air, atau tidak tahan lama hidup di dalam air karena lingkungan hidupnya yang tidak cocok.
 Air dapat merupakan medium pembawa mikroorganisme patogenik yang berbahaya bagi kesehatan. Patogen yang sering diiemukan di dalam air terutama adalah bakteri-bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan seperti Vibrio cholerae penyebab penyakit kolera, Shigella dysenteriae penyebab disenteri basiler, Salmonella typosa penyebab tifus dan S. paratyphi penyebab paratifus, virus polio dan hepatitis, dan Entamoeba histolytica penyebab disentri amuba. Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui air perlu dilakukan control terhadap polusi air.          

D. Logam Berat
Air sering tercemar oleh komponen-komponen anorganik, diantaranya berbagai logam berat yang berbahaya. Beberapa logam berat tersebut banyak digunakan dalam berbagai keperluan, oleh karena itu diproduksi secara rutin dalam skala industri. Industri-industri logam berat tersebut seharusnya mendapat pengawasan yang ketat sehingga tidak membahayakan bagi pekerja-pekerjanya maupun lingkungan sekitarnya. Penggunaan logam-logam berat tersebut dalam berbagai keperluan sehari-hari berarti telah secara langsung  maupun tidak langsung, sengaja maupun tidak sengaja, telah mencemari lingkungan. Beberapa logam berat tersebut ternyata telah mencemari lingkungan melebihi batas yang berbahaya bagi kehidupan lingkungan. Logam-logam berat yang berbahaya dan sering mencemari lingkungan terutama adalah merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), Kadmium (Cd), Khromium (Cr) dan Nikel (Ni). Logam-logam tersebut diketahui dapat mengumpul di dalam tubuh suatu organisme, dan tetap tinggal dalam tubuh dalam jangka waktu lama sebagai racun yang terakumulasi.

E. Bahan Pencemaran Lain

1.  Deterjen

Deterjen dalam arti luas adalah bahan yang digunakan sebagai pembersih,termasuk sabun cuci piring alkali dan cairan pembersih. Definisi yang lebih spesifik dari deterjen adalah bahan pembersih yang mengandung senyawa petrokimia atau surfaktan sintetik lainnya. Surfaktan merupakan bahan pembersih utama yang terdapat dalam deterjen. Penggunaan deterjen sebagai bahan pembersih terus berkembang dalam 20 tahun terakhir. Hal ini disebabkan deterjen mempunyai efisiensi pembersihan yang baik, terutama jika digunakan di dalam air sadah atau pada kondisi lainnya yang tidak menguntungkan bagi sabun biasa.    

2.  Insektisida
Insektisida banyak digunakan untuk berbagai tujuan melawan serangga, misalnya membasmi hama tanaman,membersihkan lingkungan dari serangga pembawa penyakit, mengawetkan bahan bangunan, membasmi hama gudang, dan sebagainya. Pada saat ini telah diketahui berjuta-juta spesies serangga ,dan beberapa ribu spesies beberapa diantaranya sering menimbulkan masalah. Dengan perkembangan teknologi pada saat ini, insektisida yang paling banyak digunakan adalah insektisida organik sintetik. Penggunaan insektisida ini banyak menimbulkan masalah dalam pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran air, bahan pangan, dan debagainya.
Insektisida organic sintetik dapat dibedakan atas tiga kelompok berdasrkan struktur dan komposisinya,yaitu:
  1. Insektisida organokhlorin, misalnya DDT, metosikhlor, aldrin dan dieldrin
  2. Insektisida organofosfor, misalnya parathion dan malathion
  3. Insektisida karbamat, misalnya karbaril (Sevin) dan baygon

3.Radiokatif
           Uranium dan produk-produk pemecahannya merupakan salah satu contoh elemen yang mempunyai inti sangat tidak stabil. Disintegrasi atau pemecahan inti tersebut akan menghasilkan inti emisi radioaktif yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup, bahkan mungkin dapat mematikan. Beberapa macam aktivitas yang merupakan sumber pontensial pencemaran radioaktif telah diketahui dan berperan dalam polusi lingkungan, diantaranya yaitu:
  1. Peleburan dan pengolahan logam untuk memproduksi komponen radioaktif yang berguna.
  2. Penggunaan bahan radioaktif untuk senjata nuklir.
  3. Penggunaan bahan radioaktif untuk pembangkit tenaga nuklir.
  4. penggunaan bahan radioaktif untuk pengobtan, industri, dan penelitian.

F. Penanganan Air Buangan
 Air yang tealah digunakan untuk keperluan industri, irigasi, keperluan rumah tangga, dan keperluan lainnya sering di kembalikan lagi ke sumber asalnya . keadaan ini merupakan masalah karena semakin lama jumlah polutan di dalam air tersebut menjadi semakin tinggi. Bab ini akan menjelaskan secara singkat mengenai penaganan air buangan atau limbah cair,baik secara fisik, kimia, maupun biologis.
 Bentuk control polusi air yang paling umum dilakukan di dalam industri-industri terdiri dari sistem buangan dan penanganan air buangan. Air buangan dikumpulkan melalui sistem buangan dan dialirkan ke tempat pengolahan limbah, dimana air buangan yang keluar dari tempat pengolahan limbah tersebut diharapkan mutunya sudah memenuhi syarat untuk dibuang kembali ke dalam suplai air umum . proses penanganan air buangan pada prinsipnya terdiri dari tiga tahap, yaitu: proses penanganan primer, sekunder, dan tersier atau lanjut.



BEBERAPA JENIS PENCEMAR AIR
A.  Padatan
Air yang terpolusi selalu mengandung padatan yang dapat dibedakan atas empat kelompok berdasarkan besar partikelnya dan sifat-sifatnya lainnya, terutama kelarutannya yaitu:
1.    Padatan terendap (sedimen)
2.    Padatan tersuspensi dan koloid
3.    Padatan terlarut
4.    Minyak dan lemak
Dalam analisis air, selain padatan-padatan tersebut di atas sering juga dilakukan analisis terhadap total padatan, yaitu semua padatan setelah airnya dihilangkan atau diuapkan. Padatan yang terdapat di dalam air juga dapat dibedakan atas padatan organik dan anorganik.

Selasa, 27 Oktober 2015

jurnal

PENYISIHAN KEKERUHAN PADA SISTEM PENGOLAHAN AIR SUNGAI TEMBALANG DENGAN TEKNOLOGI RAPID SAND FILTER
Nama : Fera Fitria
Nim : 41615010052

Latar Belakang
Desain dari teknologi rapid sand filter berbeda antara satu tempat debgan tempat yang lain karena memiliki perbedaan dari influentnya. Hal tersebut melatarbelakangi pengolahan air sungai di tembalang agar didapat desain yang optimal, efektif, dan efisien sehingga hasil keluaran dari rapid sand filter dapat digunakan masyarakat sekitar. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan pola pengoperasian rapid sand filter dengan umpan iar sungai tembalang. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah loading rate (10,11,12 gpm/fr2), tinggi media filter (60 dan 100 cm), serta penambahan koagulan terhadap air umpan. Ketersedian air yang cukup secara kuantitas, kualitas, dan kontuinitas sangat penting untuk keelangsungan hidup manusia. Yang menjadi masalah utama adalah kuakitas dan kuantitas air tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Terbatasnya jumlah air bersih tidak sebanding dengan pertambahan jumlah penduduk dunia yang menyebabkan konsumsi air segar meningkat drastis. Krisis air bersih juga di sebabkan oleh penurunan kualitas air sebagai akibat dari pencemaran dan kegiatan manusia.
Rapid sand filter dapat digunakan untuk mengurangi padatan tersuspensi dan tingkat kekeruhan. Distem ini menggunakan media pasir sebagai filter bed, dimana suspended solid akan tertahan pada permukaan media pasir. Tersapat dua mekanisme penting dalam rapid sand filter yaitu, mekanisme perpindahhan dan penempelan. Pada penelitian ini akan dilakukan penelitian lebih lanjut dalam penggunaan rapid sand filter pada pengolahan air sungai tembalang untuk memperoleh desaain yang optimal, efektif, dan efisien. Untuk mendapatkan efisiensi penyisihan kekeruhan, akan dikaji pengaruh loading rate, ketinggian media filter dan prises pretreatment terhadap tingkat kekeruhan affluent.

Hasil Penelitian
Umpan yang digunakan adalah air sungai tembalang yang terletak disekitar Universitas Diponegoro.  Sebelum pengambilan data dilakukan, filajukan pengukuran diameter efektif dan uniformity coefficient dari pasir yang digumakan. Variabel bebas yang ditentukan adalah loading rate 10,11,12 gpm/ft2 serta tinggi media filter 60 dan 100 cm. Air dari sungai tembalang ditampungg kedalam bak penampungan.operasi filter dimulai debgan dialirkannya air umpan kesalam kolom rapid sand filter. Setiap 5 menit dilakukan pencatatan kekeruhan. Prosedur ini dilakukan selama 60 menit. Setelah prosedur selesai maka dilajukan operasi backwash atau pencucian media filter selama 5 menit. Diameter efektif dan uniformity coefficient berpengaruh terhadap penyisihan kekeruhan dan headloss yang terjadi pada filter. Semakin kecil diameter effektif yang digunakan maka penyisihan kekeruhan akan semakin baik. Hal ini dikarenakan semakin kecil diameter efektif, porositas media filter akan tertahan diatas permukaan pasir. Ketinggian media filter mempunyai pengaruh terhadap penyisihan kekeruhan dan headloss. Semakin tinggi media bed yang dipakai mmaka penyisihan kekeruhan akan semakin baik namun headloss yang dihasilkan akan semakin besar. Hal ini dikarenakan semakin tinggi media filter maka semakin banyak ruang kosong antara partikel sehingga partikel yang terjebak dalam media filter akan lebih banyak dan penyisihan kekeruhan semakin baik. Semakin tinggi media filter juga dapat menyebabkan semakin besarnya headloss yang dihasilkan dan semakin ceoat clogging yang terjadi sehingga media filter harus di backwash agar hasil keluaran mencapai target yang di tentukan. Kualitas effluent tidak banyak dipengaruhi oleh kebaikan loading rate. Dan performa prisea filtrasi lebih tergantung pada karakteristik air influent, level, koagulasi, pretreatment, dan konfigurasi media. Pada penambahan koagulan teejadi pembentukan partikel, perubahan distribusi ukuran partikel dan perubahan karakteristik permukaan partikel.koagulasi adakah proses pengkondisian partikel padatan tersuspensi untuk terjadi gumpalan dan menghasilkan partikel yang lebih besar yang lebih mudah dihilangkan pada prises filtrasi. Kekeruhan dakam air disebabkan oleh padatan tersuspensi dalam bentuk lumpur kasar, lumpur hakus, dan koloid . Permukaan koloid memiliki muatan listrik sehingga koloid sulit untuk bersatu membentuk partikel yang berukuran lebih besar , akibatnya partikel stabil dan sulit untuk mengendap. Proses koagulasi diperlukan untuk menstabilkan koloid-koloid tersebut.

Kesimpulan
Variabel tinggi media filter memberikan effisiensi penyisihan kekeruhan yang tinggi adalah tinggi 100 cm.

Peluang penelitian selanjutnya
Tidak dilakukan penelitian selanjutnya lagi karena penelitian ini sudah cukup berhasil

http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki